Upacara berlangsung khidmat dengan petugas yang berasal dari berbagai unsur insan pendidikan di Kecamatan Kebasen. Nuansa kolaboratif ini terasa kuat, seolah menjadi simbol bahwa masa depan pendidikan memang harus dibangun secara gotong royong.
Dalam amanatnya, Pembina Upacara, Mulyadi Suryono, S.Pd., menyampaikan esensi pidato Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah yang menekankan bahwa Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi untuk menghidupkan kembali semangat memanusiakan manusia. Pendidikan, sebagaimana diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara, berakar pada nilai asah, asih, dan asuh—mengembangkan ilmu, menumbuhkan kasih sayang, serta memberikan pendampingan yang utuh.
![]() |
| Semangat insan pendidikan Kebasen dalam memaknai Hari Pendidikan Nasional sebagai momentum transformasi digital dan penguatan karakter. |
Lebih jauh, arah kebijakan pendidikan nasional saat ini difokuskan pada penguatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Pendekatan ini tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga membentuk karakter, nalar kritis, dan kemampuan adaptasi peserta didik. Upaya tersebut ditopang oleh lima strategi utama: digitalisasi pembelajaran, peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru, penguatan karakter melalui lingkungan sekolah yang aman dan nyaman, penguatan literasi dan numerasi, serta perluasan akses pendidikan yang inklusif dan merata.
Pandangan tersebut dilengkapi oleh rekannya, Ari, yang menekankan pentingnya kebijaksanaan dalam penggunaan teknologi. “Kami sadar ada batasannya. Teknologi harus membantu proses belajar, bukan justru mengganggu,” ungkapnya.
Sementara itu, Adi menyuarakan harapan yang lebih luas. Ia menginginkan pendidikan di Kebasen terus berkembang dan mampu bersaing di tingkat yang lebih tinggi. Ia juga menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dirasakannya sangat membantu konsentrasi belajar siswa. “Kami merasa terbantu karena tidak semua sempat sarapan. Semoga ke depan menunya lebih bervariasi,” tuturnya, mencerminkan harapan sederhana namun bermakna dari sudut pandang peserta didik.
Di tengah suasana reflektif tersebut, doa yang dipanjatkan menjadi penutup yang menyejukkan. Dipimpin oleh perwakilan Kantor Urusan Agama Kecamatan Kebasen, doa disampaikan secara inklusif, mengajak seluruh peserta untuk bersyukur atas kesempatan memperingati Hardiknas dalam keadaan sehat dan damai. Harapan dipanjatkan agar para pendidik senantiasa diberi kekuatan dalam mendidik dengan penuh cinta, serta agar sekolah menjadi ruang yang aman, nyaman, dan inklusif bagi setiap anak untuk tumbuh dan berkembang.
Lebih dari itu, doa tersebut juga mengandung semangat universal: agar pendidikan Indonesia mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara karakter, mampu berkolaborasi, mandiri, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan keberagaman.
Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 di Kebasen tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan. Ia menjelma menjadi ruang bertemunya gagasan, harapan, dan komitmen. Dari halaman sederhana itu, tersirat pesan kuat: masa depan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi juga oleh kesadaran kolektif untuk terus belajar, beradaptasi, dan berjalan bersama.
![]() |
Di tengah arus perubahan zaman, Kebasen memilih untuk tidak sekadar mengikuti, tetapi juga menyiapkan diri—menjadi bagian dari cahaya pendidikan Indonesia yang terus menyala.
/red














Tidak ada komentar:
Posting Komentar