KEBASEN - Suasana khidmat menyelimuti Gedung Guru Korwilcam Dindik Kebasen pada Jumat pagi (24/04/2026). Sebanyak 6 nakhoda pendidikan baru secara resmi di kukuhkan. Hadir dalam kegiatan ini yaitu Pengawas Sekolah Dasar, Penilik, Pengawas PAI, K3S, dan Ketua PGRI Cabang Kebasen. 28 Kepala SD Negeri dan 2 Kepala SD Swasta turut menyaksikan dan berkumpul bukan sekadar untuk seremoni, melainkan untuk menerima amanah baru dalam sebuah prosesi Serah Terima Jabatan (Sertijab).
Gema doa yang dilantunkan oleh Pak Warsono, S.Pd., seolah menjadi pembuka tabir perjuangan baru. Ruangan terasa sunyi saat Arifin, staf Korwilcam Dindik Kebasen, membacakan petikan Surat Keputusan. Nama-nama seperti Sukamto, S.Pd., hingga Budi Hartoyo, S.Pd.Jas., kini resmi berpindah tugas, membawa pengalaman dari sekolah lama untuk menyuburkan prestasi di sekolah yang baru.
Namun, yang paling menggetarkan adalah kemunculan enam wajah baru. Para guru berdedikasi seperti Retno Indaryani dan Sri Kasini kini menanggalkan status guru untuk memikul tanggung jawab sebagai Kepala Sekolah. Ini adalah bukti bahwa dedikasi tak akan pernah mengkhianati hasil.
Wajah-Wajah Baru, Semangat Terbarukan: Dinamika Estafet Kepemimpinan di Kebasen
Dalam dinamika dunia pendidikan, rotasi jabatan adalah sebuah keniscayaan demi menjaga api semangat pengabdian tetap menyala. Di Gedung Guru Korwilcam Dindik Kebasen hari itu, langkah kaki para pemimpin sekolah ini menandai dimulainya babak baru bagi satuan pendidikan yang mereka pimpin.
Penyegaran Pengabdian: Enam Pemimpin Berpengalaman
Sebanyak enam kepala sekolah senior memulai perjalanan baru dengan membawa segudang pengalaman untuk disemai di tempat yang berbeda. Sukamto, S.Pd., yang telah lama mendedikasikan dirinya di Sekolah Dasar Negeri 3 Adisana, kini mengawali langkah baru di Sekolah Dasar Negeri Kaliwedi. Di saat yang sama, Budi Hartoyo, S.Pd.Jas. beralih tugas dari Sekolah Dasar Negeri 2 Kalisalak untuk memperkuat Sekolah Dasar Negeri 1 Kebasen.
Wajah optimisme juga terpancar dari Parsum, S.Pd. yang berpindah tugas dari Sekolah Dasar Negeri 4 Kalisalak ke Sekolah Dasar Negeri Karangbanar. Sementara itu, Esti Umiyati, S.Pd. kini mengemban tanggung jawab baru di Sekolah Dasar Negeri Randegan setelah sebelumnya mengabdi di Sekolah Dasar Negeri 1 Kalisalak.
Pergeseran posisi ini juga membawa Oby Teguh Hermawan, S.Pd. dari Sekolah Dasar Negeri Karangbanar menuju Sekolah Dasar Negeri 3 Cindaga. Menutup daftar mutasi, M. Ali Purnomo, S.Pd. yang sebelumnya memimpin di wilayah pegunungan Sekolah Dasar Negeri Curugbunglon, kini resmi melanjutkan pengabdiannya di Sekolah Dasar Negeri 4 Kalisalak.
Regenerasi Emas: Dari Guru Menjadi Nakhoda
Momen yang tak kalah menggetarkan hati adalah ketika enam guru terbaik di wilayah Kebasen resmi naik tingkat menjadi nakhoda pendidikan. Mereka bukan sekadar berpindah jabatan, melainkan menerima amanah untuk membawa perubahan dari kursi pimpinan.
Salah satunya adalah Retno Indaryani, S.Pd., yang kini diberikan kepercayaan besar untuk memimpin tempat ia selama ini mengajar, yakni Sekolah Dasar Negeri Legok. Perasaan serupa juga dialami oleh Sri Kasini, S.Pd., yang sebelumnya merupakan guru di Sekolah Dasar Negeri 3 Cindaga, kini resmi mengemban amanah sebagai Kepala Sekolah Dasar Negeri 2 Kalisalak.
Daftar pemimpin masa depan ini kian lengkap dengan kehadiran:
Sri Sulastri, S.Pd., guru Sekolah Dasar Negeri Kaliwedi yang kini didapuk menjadi Kepala Sekolah Dasar Negeri 3 Adisana.
Noviani Wijiastuti, S.Pd., yang meninggalkan ruang kelas Sekolah Dasar Negeri 4 Cindaga untuk memimpin Sekolah Dasar Negeri 1 Kalisalak.
Asih Nurdiyati, S.Pd., guru Sekolah Dasar Negeri 2 Gambarsari yang dengan penuh keteguhan hati menerima mandat menjadi Kepala Sekolah Dasar Negeri Curugbunglon.
Yuli Purwati, S.Pd., guru Sekolah Dasar Negeri 3 Kalisalak yang kini resmi memulai masa tugasnya sebagai Kepala Sekolah Dasar Negeri 2 Adisana.
Kehadiran para "nakhoda" baru ini diharapkan tidak hanya menjaga stabilitas sekolah, tetapi juga menghadirkan inovasi-inovasi segar dalam mendidik putra-putri bangsa di Kecamatan Kebasen. Perjalanan mereka mungkin baru dimulai, namun komitmen yang terpatri di dada menjadi modal utama menuju pendidikan yang lebih gemilang.
Saat ditemui usai acara, Asih Nurdiyati, S.Pd., yang sebelumnya merupakan guru di Sekolah Dasar Negeri 2 Gambarsari dan kini mendapat mandat memimpin Sekolah Dasar Negeri Curugbunglon, tampak tak bisa menyembunyikan rona bahagianya meski mengaku ada beban besar di pundaknya.
"Perasaan saya tentu senang, tapi sejujurnya campur aduk. Ini adalah amanah yang luar biasa besar bagi saya," ungkap Asih dengan mata berbinar.
Baginya, masa transisi ini akan ia jalani dengan penuh tanggung jawab. Ia berkomitmen untuk menyelesaikan sisa kewajibannya di sekolah lama sembari mulai memetakan program di tempat tugas yang baru.
Mengenai lokasi Sekolah Dasar Neger Curugbunglon yang berada di daerah pegunungan dengan akses yang menantang, Asih menanggapinya dengan sangat bijak:
"Memang Sekolah Dasar Negeri Curugbunglon berada di gunung dan jaraknya cukup jauh, tapi bagi saya itu bukan penghalang. Saya niatkan ini untuk beribadah sekaligus bekerja. Jarak tidak akan menyurutkan semangat saya untuk mengabdi," tegasnya.
Sebagai pendatang baru di jajaran kepala sekolah, ia pun menunjukkan sikap rendah hati. Ia sadar bahwa jalan di depan masih panjang dan memerlukan banyak pembelajaran.
"Saya mohon doa dan bimbingan dari para senior agar saya bisa menjadi kepala sekolah yang profesional. Saya juga siap untuk mengikuti Diklat Kepala Sekolah guna memperdalam kompetensi saya dalam memimpin sekolah nanti," pungkas Asih menutup pembicaraan.
Sekolah Adalah Wajah Dinas Pendidikan
Koordinator Korwilcam Dindik Kebasen, Mulyadi Suryono, S.Pd., dalam sambutannya menekankan sebuah pesan mendalam yang menggetarkan sanubari para hadirin.
"Baik buruknya Dinas Pendidikan tercermin dari sekolah. Kepala sekolah harus mampu menciptakan suasana yang bersih, aman, dan menyenangkan untuk belajar," tegasnya.
Beliau juga mengingatkan bahwa di era digital ini, integritas adalah harga mati. Presensi yang terkoneksi dengan Kominfo menuntut kejujuran mutlak. Kerja keras para guru dan kepala sekolah kini dipantau oleh mata publik, terutama wali murid. Namun, di atas segalanya, Mulyadi mengingatkan bahwa setiap helaan napas kepemimpinan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan YME.
Beliau berpesan agar para pimpinan baru segera "turun ke bumi" beradaptasi dengan pemerintah desa, merangkul tetangga RT, dan bersinergi dengan Komite Sekolah. "Silaturahmi adalah kunci pembuka pintu kerja sama," imbuhnya.
Tantangan di Balik Seremoni: Mengatasi ATS di Banyumas
Di balik kemeriahan sertijab, ada nada keprihatinan yang disisipkan sebagai pengingat. Mulyadi menyoroti fenomena Anak Tidak Sekolah (ATS) yang masih menghantui. Dengan angka mencapai lebih dari 600 anak di Kebasen, Kabupaten Banyumas menduduki posisi kedua tertinggi di Jawa Tengah.
Tiga kelompok ATS mereka yang putus sekolah (Drop Out), belum pernah sekolah, hingga lulus namun tidak melanjutkan menjadi pekerjaan rumah besar bagi para kepala sekolah yang baru dilantik. "Warga Banyumas harus sekolah! Kita butuh kerja sama semua pendidik untuk mengawasi dan melaporkan jika ada anak di lingkungan kita yang terancam putus sekolah," seru Mulyadi dengan penuh semangat.
Tak hanya soal sosial, kendala teknis dalam pelaksanaan TKA juga menjadi catatan penting. Beliau meminta agar kesigapan tim sekolah terus ditingkatkan agar hambatan seperti laptop mati atau kendala log-in tidak lagi menyita waktu berharga para siswa.
Hari itu, di Gedung Guru Kebasen, bukan hanya jabatan yang berpindah tangan, melainkan sebuah janji untuk mengabdi dengan sepenuh hati. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang angka di atas kertas, tapi tentang membentuk karakter manusia di masa depan.
/red